Reality Show Indonesia, Produk Goblok untuk Menggoblokkan.

Rasanya Acara-acara TV  di republic ini sama sepertihalnya kamar kosku, ada hal-hal penting, menghibur, namun sebagian besarnya adalah SAMPAH. Salah satu tayangan sampah di TV adalah reality show atau drama reality. Demi mengeruk  keuntungan, stasiun TV berlomba-lomba meraih penonton dengan tayangan kamuflasif alias penuh tipuan, rekayasa, yang oleh bagi sebagian orang yang jeli adalah penipuan publik. Namun saying, jumlah orang yang jeli Film di bumi pertiwi kita adalah minoritas, dan merekapun sebagian masa bodoh dengan kebohongan tersebut, asal menghibur maka, so what.!! Benarkah??

Pernah nggak km menganalisis acara-acara reality show yang ada di Tipi-tipi, atau km hanya bertanya “Ini beneran nggaaaak.??” Okke, Check This Out…

1. Waaw, Gw masuk Tipiiiii….

Pemainnya yang digambarkan sebagai orang-orang sipil yang kagak sadar direkam itu ternyata sadar kamera. Maksud saya, lihat bagaimana posisi mereka saat kamera dengan diam-diam merekam. Walau digambarkan pengambilan gambar dari dalam mobil dan di Zoom untuk mengesankan “Ini misi pengintaian” Sangat ketahuan betul kalau mereka hanya cast yang diatur agar menjaga ‘titik pandang’ kamera. Semata agar terlihat nyaman dip roses editing dan selanjutnya, menjadi sebuah produk tayangan.

2. Kejaaar Tayaaang.!!!

Nah ini dia, neh saya yang begok atau mereka para pembuat reality Show yang g*blok… Okke, sebut aja Term*me&$(%$$73@0 .!!Mungkin agak aneh dengan program sejenis yang bisa tayang sampai seminggu tiga kali. Lalu di programnya dijelaskan “Pengintaian Hari pertama”, “Hari ke dua” hingga beberapa hari sampai kasusnya selesai. Logikanya, untuk menyelidiki seseorang memang perlu waktu lebih dari satu minggu. Begitupun seperti yang digambarkan dalam tayangan itu. Apakah mungkin dengan format tayangan seminggu tiga kali? Sebab konon syuting aslinya dilakukan hanya seharian penuh. Haha,,,😀

3. Format Bodoh.

Dalam tayangan pagi di salah satu TV swasta, pembuatnya merasa format ini akan lebih meyakinkan untuk dipercayai masyarakat. Formatnya adalah: satu, bagian pengakuan dari klien asli. Misalnya dia mengeluh karena suaminya ML sama pembokatnya sendiri. Di lain scene, ada juga pengakuan sang suami lengkap dengan pembokapnya. Langkah dua: adegan peragaan yang diibaratkan dimainkan oleh model. Jadi bukan cast di langkah pertama yang memeragakan, melainkan cast yang lainnya. Hal ini agar format lebih dipercayai penonton. Langkah terakhir, host-nya mulai terjun ke lapangan untuk menuntaskan masalah tersebut. Haha! Kucing saya hamper mampus saking banyak ketawa. Coba kamu pikir, orang bodoh macam mana yang mampu mengurai aib-nya sendiri dengan bersedia diwawancara. Misalnya Ariel bersedia diwawancara sementara ia dipihak ‘pendosa’ yang melakukan zina sekaligus merekam video porno.

4.  Kejadiannya pasti seru, penuh kebetulan.

Karena rekayasa, otomatis episode ini penuh dengan klimaks-klimaks ala sinetron Indonesia. Misalnya si A adalah lelaki yang nggak peduli sama keluarga. Belakangan pas diselidiki dia ternyata HOMO yang jual diri. Pas diselidikin terus lewat mobil di belakang, diketahuilah si A masuk mobil tertentu lalu selama dalam perjalanan, si A kemudian dikeluarkan dari mobil dalam keadaan telanjang dada. Dramatis amat, woy! Si A pun dibawa ke mobil ustaz yang jadi Host, kemudian bertobat. Dia ngaku kalau dia habis dirampok. Waw, padahal bodi si A gede tuh. Apa mungkin si penodong di mobil pakai senjata api? Siapa tahu? Tapi lebih banyak, proses tobat dalam tayangan sejenis berlangsung cepat dan tiba-tiba. Misalkan si B anak lelaki yang di-skrip-kan suka maki-maki orang tua. Nggak lama dia akhirnya tobat dan sujud sama ibunya. Berkopiah dan berkokolah ia. Ahhaha!

5. Soundnya kereeeeeen.

Klien yang pura-pura nyelidikin dan nanya-nanya sumber (sementara kamera diletakkan sembunyi-sembunyi) menempelkan microphone di baju si crew. Namun entah kenapa sang sumber menjawab dengan sangat jelas. Padahal logikanya, sang sumber nggak ada microfon di bajunya, dan jaraknya ama microfon Crew yang bertanya sekitar 1 meter ga mungkin suaranya kedengeran, coba kamu karokean, jarak Mic ama mulutmu satu meter. Gimana?

6. Akting Lebay.

Anak SD pun tahu mana ekspresi yang asli dan mana ekspresi yang lebay, anda gimana.?? dan buat tambahan, rata-rata mereka tidak kikuk atau lancar bicara di depan kamera, sedangkan mereka tau kalau gambar mereka akan disiarkan di Televisi dan ditonton mansyarakat senusantara. Hmm,,, sebenernya nggak semua orang lho bisa bertingkah seperti biasa di depan kamera yg lagi merekam,! Gimana.? Setju.??

Saran:

– Bedah Rumah dan Minta Tolong adalah program reality show yang cukup baik dan. Berikan pesan moral dooong.!!

– Reality show yang pernah dikecam adalah Curhat (Anjasmara) di TPI. Penuh dengan kata-kata kotor yang disensor. Salah satu cast-nya juga main di Take Him Out.

– Hindarkan tayangan tentang mistik. Para jin kafir dan iblis akan senang kalau keberadaannya dibahas. Membuat manusia ‘semakin percaya’ pada ‘keagungan’ dunia jin dan lumayan membuat parno. Bikin tayangan realigi realitas semisal yang homo-homoan tadi. Awalnya homo, ngucing, terus tobat. Awalnya ngeganja, damprat ortu, terus tobat. Begitulah, terus saja bodohkan mansyarakat kita.

– Jangan membahas masalah permasalahan seksual, apalagi di tayangkan di jam anak-anak sekolah (pagi). Meski khusus buat ibu-ibu, tapi anak-anak yang sekolah siang bisa nyimak dulu tayangan Bukan Sinetrond di Global Tv itu.

– Tayangan di luar negeri juga rekayasa. Namun mereka mampu mengemasnya dengan sangat asli. Survivor misalnya, tayangan ketika banyak orang dibiarin hidup di pulau tertentu dan yang bertahan di sana adalah yang menang. Logikanya, mana mungkin orang-orang dibiarin kelaparan sementara kru/kameramen enak-enakan makan.

Referensi: http://entertainment.kompas.com/read/2009/06/11/e165913/termehek-mehek.bohongi.penonton

Kaskus.us

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s